pemdesganggangtingan

Sedekah Bumi di Desa Ganggagtingan: Mengupas Keindahan dan Kearifan Tradisi Turun-temurun

Gambar Warga yang Berkumpul dalam Pelaksanaan Sedekah Bumi Sedekah Bumi merupakan suatu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ganggangtingan, Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan ini juga dikenal sebagai bersih desa, yang merupakan bentuk penghargaan terhadap berkah dan rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui hasil bumi dan alam sekitar. Penduduk setempat meyakini bahwa dengan memberikan sedekah bumi, mereka akan mendapatkan berkah dan keberkahan dari Tuhan. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan dan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Biasanya, sedekah bumi dilakukan setiap tahun pada saat panen raya atau pada momen yang dianggap istimewa oleh masyarakat setempat. Pada dasarnya, kata sedekah berasal dari bahasa Arab “shadaqah”. Menurut kepercayaan lokal, manusia lahir dari tanah dan akan kembali ke tanah, sehingga penting untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada bumi yang menjadi tempat tinggal dan menyediakan semua kebutuhan makanan sepanjang hidup. Selain itu, sedekah bumi juga dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada leluhur yang pertama kali menempati desa atau dusun di Ganggangtingan dengan melaksanakan pengajian untuk mendoakan mereka. Pengajian ini tidak hanya untuk sesepuh dan leluhur desa, tetapi juga untuk mendoakan para wali dan anak cucu mereka agar diberikan rezeki, kesehatan jasmani dan rohani, serta keselamatan dunia dan akhirat. Gambar Warga yang Berkumpul dalam Pelaksanaan Sedekah Bumi Di Desa Ganggangtingan, sedekah bumi dilakukan dengan mengumpulkan hasil panen yang berlimpah dan memberikannya kepada masyarakat dusun lain atau orang-orang yang membutuhkan. Selain memberikan hasil panen, sedekah bumi juga melibatkan aktivitas kerja bakti, makan bersama, dan pertunjukan seni seperti Tari Tayub, Tari Jaranan, atau pertunjukan musik electone. Pelaksanaan sedekah bumi dilakukan di area terbuka, seperti lapangan atau halaman rumah, dengan dihadiri oleh masyarakat setempat dan tamu undangan. Meskipun pelaksanaannya sendiri adalah hal yang wajib bagi seluruh warga Desa Ganggangtingan, setiap dusun di Desa Ganggangtingan memiliki keunikan masing-masing dalam rangkaian kegiatan sedekah bumi. Contohnya, di Dusun Kalongrejo, setiap Kartu Keluarga harus membawa empat wadah nasi ke rumah Ketua Dusun pada hari Kamis Pahing. Nasi tersebut akan dimakan bersama dengan tamu undangan dari Dusun Ganggang dan Dusun Templek. Sementara di dusun tetangganya, Templek, sedekah dilaksanakan pada hari Kamis Legi, warga diharuskan membawa tiga tumpeng yang akan dimakan bersama dengan warga dusun Kalongrejo lalu melakukan syukuran serta mengadakan pertunjukan musik electone pada malam harinya. Gambar Makanan yang Dikumpulkan untuk Dibagi-bagikan Terdapat perbedaan di Dusun Tingan dibandingkan dengan kedua dusun sebelumnya. Dusun Tingan yang memiliki banyak warga, keputusan tanggal pelaksanaan sedekah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kepala Dusun, namun tetap harus dilaksanakan pada hari Jumat Pon setiap tahunnya. Dahulu, Dusun Tingan dan Dusun Plapak saling mengundang untuk bertukar hasil sedekah, dengan Kepala Dusun masing-masing bertanggung jawab memberikan makanan dan minuman kepada tamu undangan. Namun, kegiatan ini terhenti karena pandemi Covid-19. Setelah itu, para perangkat dusun sepakat utuk mengganti sistem dengan metode door-to-door yang masih berlaku hingga sekarang. Dalam sistem baru ini, setiap warga dusun Tingan membuat hidangan seperti tumpeng atau ambeng yang nantinya dikumpulkan dan diantar menggunakan mobil menuju rumah Kepala Dusun Plapak untuk dibagikan ke setiap warga. Selain itu, mereka juga mendistribusikan nampan kecil di berbagai tempat, seperti punden dan dua sendang yang berada di Dusun Tingan. Di sisi lain, warga Dusun Plapak melaksanakan sedekah bumi pada hari Jumat Pahing. Kegiatan ini melibatkan kerja bakti untuk memperbaiki pagar, lampu, dan membersihkan sumur di punden setempat. Setiap warga Dusun Plapak diwajibkan membuat dua wadah nasi yang nantinya akan dikumpulkan dan diantar ke rumah Kepala Dusun Tingan untuk dibagikan kepada seluruh warga Dusun Tingan. Sedangkan, Dusun Ganggang yang dianggap sebagai cikal bakal Desa Ganggangtingan masih mempertahankan tradisi seni Tari Tayub dalam pelaksanaan sedekah bumi setiap tahunnya. Menurut kepercayaan setempat, jika Tari Tayub tidak diundang, masyarakat desa akan mendapat bala. Setiap warga Dusun Ganggang wajib membawa minimal dua hingga tiga wadah nasi untuk dibagikan kepada warga Dusun Kalongrejo dan Dusun Templek. Pada hari Selasa Kliwon, semua makanan dikumpulkan di punden yang terdapat makam leluhur Dusun Ganggang dan didoakan oleh Kyai setempat sebelum dibagikan. Pada malam hari, akan ada hiburan malam lainnya seperti pengajian, tari jaranan, atau pertunjukan musik electone yang diselenggarakan oleh masyarakat. Gambar Warga yang Berkumpul dalam Pelaksanaan Sedekah Bumi Potensi dan manfaat melaksanakan kegiatan sedekah bumi adalah sebagai berikut: Memupuk rasa syukur kepada alam: Dengan melakukan sedekah bumi, kita akan memupuk rasa syukur kepada alam dan segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Kegiatan ini memicu kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan alam. Meningkatkan pemahaman tentang kelestarian lingkungan: Melalui kegiatan sedekah bumi, kita akan memahami betapa pentingnya menjaga kelestarian alam. Dengan memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi alam, kita akan menghargai dan peduli pada lingkungan sekitar kita. Menjaga keseimbangan ekosistem: Kegiatan sedekah bumi juga dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Apabila kita memberikan sumbangan berupa tanaman atau pohon, hal ini akan membantu menyuburkan tanah, menyediakan habitat bagi hewan, dan menjaga kestabilan iklim. Mendorong kesadaran sosial: Melalui kegiatan sedekah bumi, kita juga dapat mendorong kesadaran sosial dan kepedulian terhadap sesama. Seperti memberikan sebagian hasil panen kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga tidak hanya menguntungkan alam tetapi juga dapat membantu mereka yang membutuhkan. Konservasi dan perlindungan alam: Dengan melaksanakan sedekah bumi, kita akan berkontribusi dalam konservasi dan perlindungan alam. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan dan keberagaman hayati serta melindungi ekosistem alam dari ancaman degradasi. Membangun kehidupan berkelanjutan: Melalui sedekah bumi, kita juga dapat membantu membangun kehidupan berkelanjutan di masa depan. Dengan menjaga dan melestarikan alam, kita dapat memastikan bahwa anak cucu kita juga akan menikmati manfaat alam seperti yang kita rasakan saat ini. Memberikan manfaat ekonomi: Sedekah bumi juga dapat memberikan manfaat ekonomi, terutama dalam sektor pertanian dan pariwisata. Dengan menjaga dan menjalin hubungan yang harmonis dengan alam, kita dapat memperoleh hasil panen yang melimpah serta menarik wisatawan untuk datang dan menikmati keindahan alam tersebut. Dengan demikian, melaksanakan kegiatan sedekah bumi memiliki potensi dan manfaat yang sangat besar baik dalam menjaga keberlanjutan alam maupun memberikan kontribusi positif bagi kehidupan kita dan masyarakat sekitar. Masyarakat Ganggangtingan berharap agar berkah dan rezeki terus mengalir, adanya kestabilan dalam kehidupan, terjaganya tali silaturahmi antarwarga, serta mampu menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk kebaikan

Sedekah Bumi di Desa Ganggagtingan: Mengupas Keindahan dan Kearifan Tradisi Turun-temurun Read More »

Mahasiswa KKN UB Mengenalkan Sekolah Adiwiyata dan Hidroponik kepada Siswa-Siswi SDN Ganggangtingan

Foto bersama Mahasiswa UB dengan siswa-siswi kelas 5 dan 6 SDN Ganggangtingan Pada hari Jum’at tanggal 21 Juli 2023 telah dilaksanakan kegiatan pengenalan sekolah adiwiyata dan penanaman menggunakan media hidroponik di SDN Ganggangtingan oleh Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya Malang. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak usia sekolah dasar mengenai sekolah adiwiyata dan penanaman komoditas pertanian menggunakan hidroponik. Sekolah adiwiyata adalah sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Sekolah adiwiyata merupakan sarana yang tepat untuk mewujudkan tanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Selain pengenalan sekolah adiwiyata, kegiatan ini juga diikuti oleh praktik menanam dengan menggunakan hidroponik. Hidroponik merupakan salah satu teknik menanam tanpa menggunakan media tanah. Media yang digunakan pada praktik tersebut yaitu air dengan penambahan nutrisi sebagai penunjang pertumbuhan tanaman. Foto Mahasiswa UB Menanam Pohon di Lingkungan Sekolah Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh siswa siswi kelas 5 dan 6 SDN Ganggangtingan. Selama kegiatan berlangsung, para siswa siswi SDN Ganggangtingan aktif bertanya dan menyampaikan jawaban. Siswa yang aktif selama kegiatan mendapatkan reward berupa makanan ringan dan alat tulis. Hal tersebut bertujuan untuk membangun semangat para siswa agar selalu memperhatikan pemaparan materi yang disampaikan. Kegiatan ini diharapkan dapat membangun kesadaran siswa siswi SDN Ganggangtingan akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekolah guna mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan.

Mahasiswa KKN UB Mengenalkan Sekolah Adiwiyata dan Hidroponik kepada Siswa-Siswi SDN Ganggangtingan Read More »

Mahasiswa KKN dari Universitas Brawijaya Turut Serta dalam Kegiatan Rutin Posyandu

Foto bersama Mahasiswa KKN UB dengan ibu dan anak posyandu Dusun Templek Salah satu program rutin yang dirancang oleh Pemerintah Desa Ganggangtingan ialah program posyandu balita. Program tersebut meliputi kegiatan kontrol rutin serta imunisasi terhadap balita. Program ini dilaksanakan pada setiap dusun yang dilakukan setiap satu bulan sekali. Bertepatan dengan adanya mahasiswa KKN dari Universitas Brawijaya Malang, tak luput untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kegiatan posyandu balita ini diadakan pada tanggal 12 hingga 13 Juli di lima dusun di Desa Ganggangtingan yaitu Dusun Plapak, Dusun Templek, Dusun Tingan, Dusun Ganggang, dan Dusun Kalongrejo. Kegiatan posyandu ini dilaksanakan di rumah ketua dusun masing-masing. Kegiatan tersebut disambut dengan antusiasme yang tinggi dari ibu-ibu di Desa Ganggangtingan. Adapun rangkaian kegiatan posyandu tersebut meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar lengan, serta imunisasi. Foto bersama Mahasiswa KKN UB dengan ibu dan anak posyandu Dusun Ganggang Foto bersama Mahasiswa KKN UB dengan ibu dan anak posyandu Dusun Tingan Tujuan diadakannya kegiatan posyandu tersebut salah satunya ialah pencegahan stunting pada balita. Setelah diamati dari data tahun-tahun sebelumnya mengenai stunting, Desa Ganggangtingan membutuhkan perhatian khusus pada hal tersebut. Sehubungan dengan hal ini, terdapat kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa KKN Universitas Brawijaya yaitu penyuluhan pencegahan stunting yang berfokus pada pola asuh orang tua serta demo pembuatan susu berbahan dasar jagung manis. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung program Pemerintah Desa Ganggangtingan dalam pencegahan dan meminimalisir terjadinya stunting pada balita. Dengan adanya demo pembuatan susu jagung ini, diharapkan dapat memicu kreatifitas orang tua dalam menemukan alternatif sehingga balita dapat mengonsumsi makanan bergizi dengan cara yang mereka sukai.

Mahasiswa KKN dari Universitas Brawijaya Turut Serta dalam Kegiatan Rutin Posyandu Read More »

Desa Ganggangtingan Kedatangan Mahasiswa KKN dari Universitas Brawijaya

Foto bersama Kelompok 941 dengan perangkat kecamatan di Kantor Kecamatan Ngimbang Universitas Brawijaya Malang sedang melaksanakan program KKN secara serentak pada 1000 desa di Provinsi Jawa Timur. Program tersebut diberi tajuk MMD-1000D yang merupakan kepanjangan dari Mahasiswa Membangun 1000 Desa Universitas Brawijaya. Program ini berlangsung mulai tanggal 30 Juni 2023 hingga 4 Agustus 2023. MMD-1000D merupakan salah satu bentuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi secara umum sebagaimana dinyatakan dalam UU Nomor 12 tahun 2012, yaitu merupakan kegiatan sivitas akademika dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu, pengetahuan, teknologi untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu dari 1000 Desa yang menjadi tujuan Mahasiswa Universitas Brawijaya adalah Desa Ganggangtingan. Dari 1000 kelompok yang dibentuk oleh Universitas Brawijaya, yang ditugaskan pada Desa Ganggangtingan ialah kelompok 941 yang diberangkatkan dari Universitas Brawijaya Malang pada pukul 07.00 WIB  dan sampai di Kantor Kecamatan Ngimbang pada pukul 12.00 WIB 3 Juli 2023. Kedatangan kelompok 941 mendapat sambutan hangat dari para perangkat kecamatan, Koramil, dan Polsek Ngimbang.  Selain Desa Ganggangtingan, di Kecamatan Ngimbang sendiri terdapat tiga kelompok lain yang mendapat sambutan serupa yang masing-masing menuju desa-desa di Kecamatan Ngimbang  yaitu Desa Mendogo, Desa Gebangangkrik, dan Desa Kedungmentawar. Foto bersama Kelompok 941 dengan perangkat desa di Balai Desa Ganggangtingan Setelah mengikuti kegiatan penyambutan di Kecamatan Ngimbang, kelompok 941 yang ditugaskan di Desa Ganggangtingan langsung menuju Balai Desa Ganggangtingan yang disambut secara hangat lagi oleh Perangkat Desa Ganggangtingan. Adapun posko atau tempat tinggal sementara yang digunakan oleh kelompok Mahasiswa Universitas Brawijaya adalah rumah Bapak Sutomo selaku Kepala Dusun Kalongrejo yang dengan senang hati menyediakan tempat tinggal bagi para mahasiswa. Kelompok 941 akan melaksanakan program kerjanya baik secara individu maupun berkelompok sampai dengan tanggal 4 Agustus 2023 yang diharapkan dapat mengasah softskill dalam membangun teamwork, yaitu kemampuan mahasiswa bekerjasama lintas disiplin/keilmuan (lintas kompetensi), dan juga leadership mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah pedesaan. Selain itu, MMD juga dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di perguruan tinggi ke dalam konteks pembangunan desa.

Desa Ganggangtingan Kedatangan Mahasiswa KKN dari Universitas Brawijaya Read More »

Scroll to Top